
Saya lahir di Suriname tahun 1928 di district Nickerie. Waktu pulang ke Indonesia umurku kira-kira 26 tahun, sudah menikah. Aku bersaudara sepuluh orang; sembilan pulang ke Indonesia cuma satu tinggal di Suriname. Aku punya anak satu, cerai sama istri saya, tinggal di Suriname, ini istri kedua.
Pengalaman di Suriname kerja di sawah saja, membuka sawah, menanam padi untuk makan sehari-hari. Waktu itu mana ada anak yang sekolah. Satu kampong satupun tidak ada anak yang meneruskan sekolah. Pokoknya asal tahu huruf saja sudah berhenti sekolah, kerja di sawah. Waktu itu kan orangtua masih melarat istilahnya, cari makan saja susah.Orangtua membeli tanah satu hektar dari istilahnya ‘uang kapal’. Itu 100 gulden per orang. Ayah saya seratus gulden itu dihabiskan untuk main. Uang ibu yang digunakan untuk beli tanah itu. Orang Jawa sering kumpul-kumpul main, main tayub segala, ledhek-ledhek itu. Aku tidak ikut, malu aku. Dulu waktu masih disana banyak tayub, main kartu. Adu ayam tidak seberapa, dadu yang banyak. Ketoprak ada, joko bodo ada, bermacam-macam. Pokoknya kesenian di Jawa, di Suriname ada...
Kalau wayang wong aku ikut, ndalang juga. Itu rombongan kawan-kawan, ayo ikut-ayo ikut, mendaftar kita di situ. Latihannya tidak tentu, pada umumnya malam minggu latihan. Mainnya di tempat wali negeri. Ada rumah besar. Di tempat lurah, di Nickerie. Setiap kampong Jawa ada lurah orang Jawa. Kalau kampungnya orang dia ya orang dia, kalau kampungnya orang Jawa ya orang Jawa. Tidak dipilih tapi ditunjuk dari atas, dari kecerdasannya.
Yang mendorong keluarga besar untuk pulang ke Indonesia ya partai. Keluarga suka ikut kegiatan partai, rapat-rapat. Dijanjikan kalau di Suriname makan satu piring, di Indonesia bisa makan dua piring. Ya memang betul, wong menebang kayu, lapar, makan. Nebang kayu, main kampak itu kan lapar perutnya, bisa tiga piring juga.
Sampai di Tongar, menangis. Meninggal rumah dan sawah, disini masuk rimba belantara. Aku disuruh kerja merintis tanah pulang nangis kok. Tanah seperti ini mau dibikin sawah bagaimana ini?. Tanahnya naik turun. Airnya ngalir kemana? Di Suriname tanahnya datar. Waktu di Tongar kegiatannya nebang hutan, sendiri. Waktu pulang tinggal di bedeng . Keluarga sendiri-sendiri. Bedeng itu ada dari A sampai O, masing-masing 10 keluarga, 5 sebelah sana, 5 sebelah sini. Cuma tiga meter persegi satu keluarga. Kalau anakya lima mana bisa tidur disitu!. Di Suriname dapat lima hektar, itu dikasih sama pemerintah. Jadi sudah dipatok-patok empat hektar, dikasih irigasi. Jadi pemuda yang tidak punya sawah dikasih. Jadi tidak seperti disini. Pemerintah tidak mau tahu itu. Punya tidak punya terserah. Tapi di Suriname kalau ada keluarga yang tidak punya tanah, Pak Wali Negeri suruh mencatat. Nanti disodorkan ke Bupati. Nanti di balai tinggal dipanggil dan dibagi. Begitu waktu itu.
Tanah di daerah kita itu, di Nickerie paling gini (mengacungkan jempol-redaksi ). Pak Sarmidi ketika ke Suriname bilang bahwa adik besan saya, Jamin, sudah 1000 hektar sawahnya, menanamnya sama Helikopter, menyabitnya pakai kombain. Disini gepyok begini dipamerkan neng TV malu aku. Sedangkan diluar negeri sudah pakai mesin semua.
Waktu di Suriname sehari-hari bahasa Jawa, di sekolah bahasa Belanda, kalau sama orang India bahasa India, sama orang Negro, bahasa Negro. Itu istri saya pinter bahasa India. Tetangganya kanan kiri India semua itu. Kalau istri saya itu banyak lupa itu, kalau aku masih ada. Waktu pulang tidak tahu bahasa Indonesia. Aku tahu sedikit-sedikit. Aku beli buku kamus bahasa Belanda bahasa Indonesia cuma dipinjam orang tidak dikembalikan sampai sekarang.
[Migrasi dan Transnasionalisme]
Kemampuan dari Suriname paling bertukang. Itupun disini. Bikin rumah. Ini dulu saya yang membuat. Maklum dalam ekonomi kurang, apa saja dikerjakan lama-lama jadi tahu sendiri. Otodidak saya. Waktu zaman yayasan aku bikin rumah tiga tanpa dibayar sama yayasan. Rumah Turbin siji, Rumah mbah Simo siji, Rumah Pak Suwardi, ijik padahal. Itu borongannya 450 rupiah itu. 1 sen pun tidak dibayar.
Pada waktu itu yayasan membantu-bantu kalau orang bikin rumah. Kalau mau meminjem uang dipinjemin. Kalau tidak ada ya sudah. Habis uang satu juta setengah kredit dari Pemerintah Indonesia, yayasan berdiri sendiri, cari makan sendiri. Aku kasihan sama anak-anak sekarang. Kalo sekarang anak-anak itu tidak punya tanah. Paling kerjanya nanam sawit, kalau tidak manen sawit mau apa? Beda sama Juranggo. Disana dikasih tanah dua hektar perkeluarga sama Pak Hardjo (Salikin Hardjo-red). Di Tongar tidak, Cuma dikasih sawah-sawah kecil. Orang Tongar bagiannya diambil satu hektar-satu hektar diberikan sama orang Juranggo. Nah, mereka punya kita sendiri tidak punya. Juranggo itu dulu daerah kita, sebelah jembatan yang kita lewati. Itu ada beberapa orang kita, tapi banyak yang kosong. Nah yang kosong itu “ditempati” oleh orang transmigran. Dibeli, atau dikasih, atau ada perjanjian lain…tidak tahu. Orang sini tidak ngerti, tapi Pak Hardjo yang mengasihkan kepada mereka. Kalau orang itu dapat 2 hektar perkeluarga. Kita orang Tongar tidak ada yang dapat. Anak-anak muda sekarang ini pengangguran. Kalau dapat kerja dari teman-temannya ya mau apa? Tanah tidak punya, sawit tidak punya. Mau tanah siapa ditanamin?
[Migrasi dan transnasionalisme]
Aku lahir 1928 tanggal 10 bulan 10. Disana jarang orang memakai akte kelahiran. Kalau ada kelahiran dilaporkan terus ke camat. Kalau anak umurnya sudah 6 tahun belum sekolah, didatangi guru “Pak anakmu sudah 6 tahun. Besok suruh sekolah!”. Ayahnya belum tahu kalau anaknya umur 6 tahun tapi guru tahu. Kalau habis lahir, dua minggu belum dilaporkan, kena denda itu. Lima gulden. Sekolah gratis. Pokoknya openbare school. Zaman itu tidak pakai seragam. Celana kain semaunya dipakai. Kalau tidak punya bilang sama gurunya, kadang-kadang dibelikan sama gurunya itu. Gurunya Orang india, ada orang Negro, ada Jawa satu. Meester Timin. Itu bukan guru asli, tapi guru bantu . Saiki dadi camat. Zaman aku sepeda belum ada, jalan kaki semua. Sekolah campur, penduduknya juga campur. Ada orang Jawa, ada orang India. Campur tidak papa, biasa saja. Terutama Perdis [Paradijs-red] itu campur banget itu, ada Indianya ada Negronya.
[Latihan dan Pendidikan]
Aku tidak tahu famili yang di Magelang. Bapakku tidak mau hubungan, katanya karena mlarat. Nanti kalau menulis surat terus mereka ke sini, apa yang mau dikasihkan? Bapak saya umur 20 tahun waktu ke Suriname. Sebelumnya penganguran. Tahun 1919 Bapak saya ke Suriname, terus kawin. Abang saja Jimin lahir tahun 1920. Nah pak Jimin itu yang punya anak namanya Langsinem, yang lahir di kapal. Baru mau naik sudah mau melahirkan ya lahir dikapal. Rumi namanya. Kan ada 3 yang lahirin di kapal ?. Kan ada rumah sakit di kapalnya. Kamar sakitnya kayak didarat itu. Cuplikan kelima
[Keluarga dan Asuhan]
Sampai di Tongar adaptasinya bergaullah. Orang Tongar kan orang Minang. Mereka hitungannya ciek, duo, tigo, jadi kami manggil mereka wong ciek. Sekarang teman semua. Sudah saling kawin antara orang Tongar sama kampung. Nah orang Tongar sini yang dari Suriname..yang pertama kali dapat orang sini itu Pak Satino. Satino itu hitam besar tinggi. Campuran negro. Itu kawin dapat orang depan situ. Shery namanya. Cantik dia.
[Kebudayaan dan Identitas]
Tanggal wawancara: 14-03-2010
Wawancara: Amorisa Wiratri dan Ayumi Malamassam
Seleksi dan susunan cuplikan: Hariette Mingoen
